Berbagi Ilmu Parenting

"Ajaklah anak-anakmu bermain pada usia tujuh tahun pertamanya. Disiplinkan mereka pada usia tujuh tahun keduanya. Dan bersahabatlah dengan mereka pada usia tujuh tahun ketiganya." (Ali bin Abi Thalib)

  • Kenali Potensinya

    Setiap orangtua harus mampu melihat dan mengenali bakat dan potensi yang dimiliki anak-anak mereka..

  • Kembangkan

    Orangtua harus memiliki cara untuk membantu anak-anak mereka dalam melejitkan bakat dan potensi tersebut..

  • Karakter

    Namun yang lebih penting dari semua itu adalah membangun mental dan karakter mereka, agar tidak mudah mengikuti begitu saja pendapat orang lain.

  • "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena ia bukan hidup di jamanmu."

    (Ali bin Abi Thalib)

    Artikel terUpdate

    Sunday, December 3, 2017

    Yang Harus Dilakukan dan Tidak Boleh Dilakukan Orangtua Saat Mendongeng

    cara mendongeng yang baik untuk anak


    Ibnu khaldun, seorang ilmuwan muslim pernah mengatakan,

    “Siapa yang tidak terdidik oleh orangtuanya, maka ia akan terdidik oleh jaman.”

    Maksudnya adalah,

    seseorang yang tidak memperoleh pendidikan melalui orangtuanya atau guru,

    maka ia akan memperoleh pendidikan itu dengan bantuan alam: dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang jaman.

    Karena itu definisi pendidikan menjadi sangat luas cakupannya.

    Sehingga menurut beliau, pendidikan adalah suatu proses dimana seseorang mendapat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitarnya secara sadar.

    ***

    Di dalam artikel sebelumnya tentang manfaat dongeng bagi anak-anak,

    disebutkan bahwa pendidikan melalui cerita dongeng bisa sangat efektif untuk perkembangan mental dan karakter mereka.

    Peristiwa atau kejadian yang ada di dalam dongeng membantu mereka untuk mampu memikirkan, menakar dan memilih mana yang baik untuk ditiru dan mana yang buruk untuk dihindari.

    Namun meski terlihat sebagai kegiatan yang sepele, ternyata mendongeng tidak bisa dilakukan secara asal-asalan dan sembarangan.

    Kenapa?

    Karena jika orangtua tidak memahami langkah-langkah mendongeng yang baik, maka cerita akan menjadi sangat tidak menarik bagi anak-anak.

    Selanjutnya yang akan terjadi adalah kebosanan pada diri anak-anak.

    Jika kebosanan ini sudah ada, maka pesan-pesan yang ingin kita sampaikan tidak akan dapat tertangkap oleh mereka.

    Lalu bagaimana cara mendongeng yang baik untuk anak-anak?

    Berikut ini adalah apa yang harus dilakukan oleh orangtua dan apa yang tidak boleh dilakukan ketika mendongeng untuk anak-anak mereka.

    Yang Harus Dilakukan:


    1. Pilih waktu yang tepat.


    Istilah “dongeng sebelum tidur” sebenarnya bukanlah sebuah istilah yang tanpa makna.

    Penelitian menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk menceritakan sebuah dongeng untuk anak-anak adalah menjelang mereka tidur di malam hari.

    Waktu menjelang tidur adalah waktu yang paling santai dalam keseharian anak.

    Pada saat ini materi dongeng akan menjadi semacam terapi bagi mereka. Sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan diharapkan bisa diterima alam bawah sadar melalui mimpi.

    Dan yang menarik,

    mimpi yang indah –dikatakan- akan memberikan dampak positif bagi perkembangan psikologi mereka.

    2. Pilih cerita yang tepat dan kuasai.


    Pilih cerita yang memuat nilai-nilai moral yang ingin kita sampaikan kepada anak.

    Apakah pesan tentang kemandirian, kesetia-kawanan, kejujuran, dan sebagainya. Tentu saja harus disesuaikan juga dengan usia anak.

    Meski disebut dongeng,

    orangtua tidak harus mengambil cerita dari buku-buku fiksi.

    Kisah-kisah kenabian, kepahlawan para sahabat Nabi atau tokoh-tokoh muslim dunia adalah referensi yang terbaik untuk diceritakan kepada anak-anak.

    Selain itu, yang harus dilakukan oleh orangtua adalah memahami jalan cerita dan menguasai karakter tokoh-tokoh dalam cerita dongeng tersebut.

    Penting juga untuk memilih cerita dengan alur yang tidak terlalu panjang.

    Alasan untuk hal ini akan dijelaskan pada poin selanjutnya.

    3. Persiapkan anak.


    Artinya kita memberikan anak suasana yang nyaman sehingga mereka bisa berkonsentrasi dengan dongeng yang akan kita ceritakan.

    Atur posisi kita dan posisi anak agar mereka bisa mendengarkan dan memperhatikan kita dengan jelas dan tidak teralihkan oleh hal-hal lain.

    Namun yang perlu menjadi catatan adalah daya konsentrasi anak-anak itu tidak terlalu lama.

    Artinya kita perlu memilih cerita dengan alur yang tidak terlalu panjang.

    Laura Numeroff, seorang penulis buku cerita untuk anak-anak mengatakan bahwa durasi yang disarankan untuk mendongeng tidak lebih dari 20 menit setiap malam.

    Lebih dari itu anak-anak akan dilanda kebosanan.

    Jadi lebih baik memilih cerita yang cukup pendek lalu dikembangkan sendiri,

    daripada kita harus meringkasnya karena cerita yang terlalu panjang.

    4. Berikan pembukaan yang dramatis untuk merangsang imajinasi anak.


    Kalimat pembukaan seperti, “Pada suatu ketika...” atau “Suatu hari...” yang diimbangi dengan penghayatan penuh bisa merangsang anak-anak untuk segera berimajinasi.

    Jika sejak awal kita dapat mengkondisikan mereka untuk tertarik mendengarkan cerita,

    maka kita akan lebih mudah untuk menyelipkan pesan-pesan moral yang ada di dalam cerita tersebut.

    Dramatisasi dalam sebuah dongeng bisa diaplikasikan dengan banyak cara,

    misalnya dengan cara mengubah suara kita menjadi suara-suara aneh untuk tokoh tertentu atau dengan menggunakan gerakan-gerakan yang ekspresif dan pandangan yang tajam.

    5. Akhiri dongeng dengan mengulang pesan moralnya.


    Untuk menguji apakah cerita yang kita sampaikan bisa diterima oleh anak-anak,

    kita perlu untuk mengulang pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut.

    Mengulangi pesan moral ini juga berfungsi untuk semakin memperdalam masuknya pesan-pesan tersebut.

    ***

    Yang Tidak Boleh Dilakukan:


    Selain cara mendongeng yang harus diterapkan oleh orangtua di atas,

    ada juga hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat mendongeng. Diantaranya:

    1. Jangan mendongeng dengan menggunakan gadget.


    Salah satu manfaat dari mendongeng adalah untuk menciptakan interaksi yang intens antara orangtua dan anak.

    Hal ini tidak akan tercapai jika kita mendongeng dengan perantaraan gadget.

    Interaksi yang seharusnya langsung antara orangtua – anak, menjadi orangtua – gadget – anak.

    Fokus anak akan tertuju pada gadget, bukan pada gerak tubuh atau ekspresi wajah orangtua.

    Sehingga manfaat yang diharapkan tidak akan tercapai.

    2. Orangtua tidak perlu membaca persis seperti apa yang tertulis di dalam buku cerita.


    Tujuan awal dari pembacaan dongeng ini adalah agar anak menikmati apa yang didengarnya.

    Seringkali terjadi,

    bahasa dongeng yang tertulis pada buku akan terasa janggal bila diucapkan dengan lisan.

    Di sini orangtua diharapkan bisa kreatif dengan mengubah “bahasa penulisan” menjadi “bahasa penceritaan”.

    Tidak masalah bagi orangtua untuk menambahi atau mengurangi kata-kata yang ada di dalam buku agar tepat jika dilisankan.

    Jangan terpaku pada text-book.

    3. Jangan gunakan istilah-istilah yang masih belum dipahami anak-anak.


    Kita ingin agar pesan moral yang ada pada cerita dapat dengan mudah ditangkap oleh anak-anak.

    Hal ini tidak akan terjadi jika anak-anak tidak memahami kata atau kalimat yang diberikan.

    Jadi sebaiknya orangtua menggunakan kata-kata yang sudah dipahami oleh anak-anak,

    kecuali jika kita memang bermaksud memperkenalkan kosakata baru pada mereka.

    4. Jangan memotong cerita untuk diceritakan esok hari.


    Seperti yang sudah ditulis di atas,

    bahwa durasi mendongeng tidak perlu lama-lama. Cukup 20 menit saja.

    Namun jika kemudian, karena cerita yang terlalu panjang,

    lalu kita meringkasnya atau memotong ceritanya dengan niatan akan menyambungnya esok hari,

    maka ini adalah sebuah tindakan yang keliru.

    Bisa jadi imajinasi anak-anak yang sudah terbentuk sejak awal akan terpotong.

    Dan hal ini mungkin akan menyebabkan lahirnya pemahaman yang keliru.

    Pemahaman keliru yang terbawa oleh alam bawah sadar anak-anak akan membentuk karakter negatif pada diri mereka.

    Sunday, November 19, 2017

    6 Manfaat Mendongeng ini Penting untuk Diketahui Orangtua

    manfaat mendongeng untuk anak

    Mendongeng,

    sepertinya sudah menjadi suatu hal yang sangat langka bagi –meminjam istilah terkini- orangtua jaman now.

    Mendongengkan sebuah cerita untuk anak-anak kini sudah tergantikan dengan permainan-permainan online, streaming youtube, dan sebagainya.

    Orangtua,

    dengan alasan klasiknya: lelah setelah bekerja

    menganggap bahwa aktivitas mendongeng untuk anak-anak mereka adalah suatu kegiatan yang membuang-buang waktu dan tidak bermanfaat.

    Karena itulah kemudian para orangtua ini memberikan sebuah “dunia” tersendiri untuk anak-anak mereka.

    Dunia yang memiliki dinding agar sang anak tidak lagi menganggu aktivitas orangtua saat tiba di rumah.

    Maka dibiarkanlah anak-anak ini bermain dengan gadgetnya sendirian di kamar.

    Atau jika tidak begitu,

    diberikanlah peraturan keras bahwa ketika ayah atau ibu mereka pulang dari bekerja

    tidak boleh diganggu dengan alasan apapun karena mereka sudah LELAH.

    Sehingga inilah yang kemudian akan terjadi:

    Anak-anak sibuk dengan aktivitasnya. Orangtua sibuk dengan kegiatannya.

    Berada di dalam satu ruangan, namun tidak saling mengenal.

    Ini ironis.


    Manfaat mendongeng menurut para ahli


    Kita ingat atau tidak, dulu ketika kita masih kecil,

    betapa gembiranya saat ayah atau ibu kita datang dengan membawa sebuah majalah anak-anak yang masih baru.

    Kita senang dengan cerita-cerita dan gambar-gambar di dalamnya.

    Apalagi jika kemudian ayah atau ibu kita membacakannya untuk kita.

    Kenapa “fasilitas” yang sama tidak kita berikan juga kepada anak-anak kita?

    Membacakan cerita untuk anak-anak atau mendongeng memiliki manfaat yang sangat besar yang mungkin tidak kita sadari.

    Di dalam catatan ayahnulis, ada sedikitnya 6 manfaat yang terpenting yang bisa didapatkan oleh anak-anak dengan kegiatan mendongeng ini.

    1. Meningkatkan kemampuan mendengar, berbicara dan berbahasa


    Ini adalah manfaat dongeng bagi anak yang paling “ringan” diantara manfaat-manfaat yang akan disebut belakangan.

    Dengan banyaknya kosa kata baru yang mereka dengar melalui sebuah dongeng,

    anak-anak akan mulai mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara dan keterampilan berbahasa mereka,

    tanpa kita menyadarinya.

    Sehingga meski dikatakan sebagai manfaat yang paling ringan,

    peningkatan hal-hal ini adalah kunci pembuka dari perkembangan-perkembangan selanjutnya.

    Inilah tujuan mendongeng yang paling dasar.

    2. Merangsang minat baca mereka


    Dengan seringnya anak-anak mendengar cerita-cerita yang menarik,

    mereka akan tergugah untuk mulai membacanya sendiri sehingga ketertarikan pada aktivitas membaca akan terbentuk pada mereka.

    Seperti yang telah kita tahu bahwa membaca adalah aspek penting dalam proses tumbuh kembang anak.

    Karena membaca juga menjadi kunci pembuka untuk memahami segala hal,

    seperti yang diisyaratkan pada wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    3. Melatih imajinasi, kreativitas dan daya nalar anak-anak


    Ini jelas.

    Karena ketika mendongeng, tidak ada yang bisa dilakukan oleh anak-anak kecuali membayangkan dan meng-visualkan cerita yang kita bawakan.

    Kemampuan imajinasi yang terlatih akan berdampak dengan peningkatan kreativitas mereka.

    Definisi sederhana dari kreativitas biasanya diterjemahkan sebagai suatu kegiatan untuk menciptakan suatu karya yang baru.

    Maka semakin kreatif seseorang, ia berpeluang menjadi pemimpin dan trendsetter di bidang tersebut.

    Kita tentu ingat kisah Wright Bersaudara,

    yang dengan kreativitasnya berhasil menciptakan sebuah pesawat terbang yang berhasil mengudara untuk pertama kalinya di dunia

    dimana saat itu semua orang berpikir bahwa tidak mungkin manusia bisa terbang.

    Kreativitas memang biasanya berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang kemudian terjawab dengan berkembangnya nalar.

    Seperti yang dikatakan Einstein,

    “Saya bukanlah orang yang memiliki bakat khusus. Saya hanya penasaran.”

    Maka tidak heran penemuan teori grafitasi yang terkenal milik Sir Issac Newton itu ternyata berawal dari sebuah pertanyaan sederhana,

    “Kenapa buah apel bisa jatuh ke bawah?”

    4. Meningkatkan pengetahuan, daya ingat, keterampilan berpikir dan problem solving


    Sederet kemampuan di atas  -jika kita perhatikan- justru bisa didapatkan dari kegiatan mendongeng yang dianggap sepele ini.

    Saat mendengar dongeng atau cerita baru,

    maka otomatis ada informasi baru yang akan mereka serap.

    Informasi baru yang mereka terima ini akan memunculkan sebuah pertanyaan dari mereka (karena sebenarnya anak-anak itu sudah kritis dari sananya).

    Lalu orangtua akan memberikan sebuah pancingan jawaban, sehingga mereka mulai berpikir dan menemukan solusinya sendiri.

    Solusi ini yang secara tanpa sadar akan tersimpan terus di dalam memori mereka

    untuk kemudian menjadi semacam rumus jawaban bagi persoalan-persoalan yang lebih besar saat mereka dewasa nanti.

    5. Media untuk menanamkan pesan-pesan moral


    Yang tidak kalah penting dari manfaat mendongeng ini adalah,

    orangtua bisa menyelipkan pesan-pesan moral tentang nilai-nilai kehidupan melalui tokoh-tokoh dongeng yang dibawakan.

    Orangtua bisa menjelaskan pesan-pesan sosial yang terkandung di dalam dongeng tersebut.

    Transfer pesan yang seperti ini lebih efektif dan memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nasehat biasa.

    Hal ini karena anak-anak menerimanya dengan keadaan rileks.

    Maka kemampuan mendongeng yang baik sangat diperlukan di sini.

    Di bawah nanti juga akan dijelaskan beberapa tips bagaimana mendongeng yang efektif.

    6. Memperkuat interaksi antara orangtua dan anak


    Ketika orangtua menyempatkan diri membacakan dongeng untuk anak-anak,

    maka –kita sadar atau tidak- aktivitas ini akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi anak.

    Mereka akan merasa begitu disayangi dan diperhatikan,

    apalagi jika kegiatan ini diimbangi dengan kontak fisik seperti tatapan yang hangat, pelukan, tertawa bersama, dan sebagainya.

    ***

    Lalu pertanyaannya sekarang,

    apakah setiap orangtua bisa menjadi pendongeng yang baik?

    Pada artikel selanjutnya ayahnulis akan memberikan beberapa tips bagaimana cara mendongeng yang baik untuk anak-anak.

    Tuesday, November 7, 2017

    Melarang Anak dengan Kata “Jangan”, Benar atau Salah?

    pendidikan anak, pendidikan karakter, melarang anak

    Seorang motivator, pernah mengatakan bahwa melarang anak dengan menggunakan kata “jangan” adalah sebuah kekeliruan.

    Karena anak-anak (dan orang dewasa), memiliki kecenderungan untuk penasaran terhadap sebuah larangan.

    Dan otak, lebih mudah mengingat bagian terakhir dari sebuah perintah atau sebuah larangan.

    Misalnya, kita melarang anak-anak dengan kalimat “jangan lari!”,

    maka bagi anak-anak kata “jangan” akan tertutup dengan kata “lari”.

    Itulah sebabnya - kata sang motivator ini - kenapa anak-anak yang dilarang lari, justru semakin menjadi-jadi larinya.

    Atau kita melarang seseorang untuk membuka sebuah kotak.

    Maka rasa penasarannya, justru akan membuat orang tersebut membuka kotak tersebut.

    Sebagai penguat teorinya,

    pernah dalam salah satu seminarnya, sang motivator ini meminta semua audiensnya untuk menutup mata.

    Setelah itu sang motivator mengatakan begini,

    “Jangan membayangkan... sekali lagi, jangan membayangkan... seekor gajah berwarna jingga melintas di depan anda!”

    Apa hasilnya?

    Ya, semua audiens justru membayangkan apa yang dilarang dibayangkan oleh sang motivator.

    Benar atau Salah?


    Saya yakin, jika anda mengikuti tulisan saya di atas, anda akan setuju dengan apa yang diteorikan oleh sang motivator.

    Saya juga sempat “terpengaruh” oleh teori ini. Bahkan di blog saya yang sebelumnya, saya pernah menulis juga tentang hal ini.

    Akan tetapi kesetujuan saya berubah ketika pada suatu saat saya mengikuti sebuah seminar dengan pembicara yang berbeda.

    Sebuah seminar tentang parenting, yang memang merupakan agenda tahunan di sekolah tempat putra pertama saya belajar.

    Di dalam seminar tersebut, sang pembicara membantah habis-habisan teori sang motivator.

    Dari sinilah saya menjadi sadar, bahwa tidak semua yang dikatakan mereka yang berjuluk motivator itu benar.

    Dan bahwa kita perlu melihat segalanya dari sisi yang berbeda.


    Bantahan Pertama


    Di dalam Al-Qur’an yang kebenarannya tidak pernah diragukan,

    banyak larangan-larangan yang menggunakan kata “jangan”.

    Jangan mempersekutukan tuhanmu dengan yang lain.

    Jangan mendurhakai kedua orangtuamu.

    Jangan memakan harta anak yatim dengan cara yang batil.

    Jangan membunuh tanpa alasan yang dibenarkan.

    Jangan mendekati zina, judi, dan sebagainya.

    Adalah sebagian contoh larangan yang justru menggunakan kata “jangan”.

    Bahkan dikatakan ada sekitar 500-an kalimat larangan di dalam Al-Qur’an yang menggunakan kata “jangan”!

    Jika,

    apa yang dikatakan sang motivator tadi adalah benar adanya,

    maka Al-Qur’an ini tentu saja akan lebih dahulu menunjukkannya.

    Karena ia diciptakan lebih dahulu daripada sang motivator. Dan ia diciptakan oleh Dzat yang Maha Benar.


    Bantahan Kedua


    Jika otak anak-anak dikatakan memiliki kecenderungan untuk mengingat hal yang terakhir,

    maka silahkan lakukan eksperimen ini pada anak-anak anda.

    Coba katakan kepadanya seperti ini,

    “Nak, mulai besok jangan shalat Shubuh!”

    Lalu lihat bagaimana hasilnya...

    Jika yang diteorikan sang motivator benar,

    maka seharusnya anak-anak kita akan menjadi lebih semangat dalam shalat Shubuh!

    Tapi hasilnya tidak begitu, bukan?

    Karena itu,

    yang menjadi pokok persoalan adalah bukan menggunakan kata “jangan” atau tidak.

    Yang utama adalah bagaimana anak memahami maksud kita memberikan perintah atau larangan tersebut.

    Sehingga ketika kita melarang anak-anak membuka-buka chat WhatsApp kita misalnya,

    mereka menuruti kita bukan karena kita melarang, atau karena mereka takut dengan ancaman kemarahan kita,

    tetapi karena mereka tahu tujuan pelarangan tersebut.

    Bahwa membuka-buka file orang lain adalah termasuk perbuatan yang tidak sopan, dan bisa merusak kepercayaan orangtua kepada mereka, misalnya.

    Atau kita bisa memberikan perbandingan kepada mereka bagaimana jika buku-buku  atau tas mereka diobok-obok oleh orang lain.


    Gagalnya Komunikasi dengan Anak-anak


    Salah satu penyebab kenapa larangan kita malah dianggap oleh anak-anak sebagai “tantangan” untuk dilakukan,

    adalah karena gagalnya komunikasi dengan anak-anak.

    Komunikasi antara orangtua dan anak semestinya adalah komunikasi antara sahabat atau teman,
    bukan antara Bos dan Karyawan.

    Mungkin kita pernah mendengar ungkapan seperti ini,

    “Dua hal yang dapat merusak persahabatan manapun adalah, harapan yang berlebihan dan kurangnya komunikasi.”

    Maka percakapan yang hangat adalah pintu utama kita untuk menjalin kedekatan dengan anak-anak.

    Jangan sampai terjadi, karena kurangnya komunikasi kita dengan mereka

    sehingga membuat kita mudah marah setiap kali mereka melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

    Seringnya anak dimarahi karena ketidak-tahuan mereka sebenarnya justru akan membuat mereka merasa tidak dihargai, takut dan rendah diri.

    Pada artikel 7 Cara Berkomunikasi dengan Anak untuk Menumbuhkan Sikap Disiplin Mereka,

    dituliskan bahwa memberikan penjelasan yang tepat akan membuat anak mengerti mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

    Bantu mereka untuk memahami apa yang sedang terjadi.

    Pada ujungnya nanti, anak-anak akan tetap mengikuti penjelasan kita tanpa kita melarang atau mengingatkannya kembali.

    Inilah tujuan dari pendidikan yang sebenarnya.

    Bahwa mereka melakukan sebuah hal baik bukan karena perintah atau dorongan,
    melainkan karena kemauan dan kesadaran diri pribadi mereka.

    Sunday, October 22, 2017

    Anak Perempuan Seharusnya Dekat dengan Siapa?

    ayah nulis, pendidikan karakter, parenting


    Tulisan ini tidak hanya terpaku pada pembahasan anak perempuan saja.

    Jika dipanjangkan, judul dari tulisan ini sebenarnya, “Anak laki-laki seharusnya dekat dengan siapa, dan anak perempuan seharusnya dekat dengan siapa”.

    Pada postingan ini akan dijelaskan apa itu fitrah seksualitas,

    dan bagaimana membentuknya pada anak-anak kita.

    ***

    Pada artikel tentang membangun karakter buah hati ini, saya pernah menuliskan bahwa seorang anak yang memiliki kedekatan dengan sang ayah, memiliki dampak positif yang lebih besar daripada yang tidak. (Dr. Kyle Pruett, penulis buku tentang parenting).

    Kecenderungan memiliki emosi yang stabil bisa didapatkan dengan interaksi yang kuat dengan sosok ayah.

    Pernyataan Dr. Kyle Pruett ini sebenarnya tidak ada yang salah.

    Hanya saja jika tidak dijelaskan secara lebih detil akan terjadi kesalah-pahaman.

    Kita tentu menyadari bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.

    Sedangkan di dalam pendidikan anak-anak tidak hanya sosok sang ayah yang “bekerja”.

    Figur sang ibu pun diperlukan untuk tumbuh kembang anak-anak.

    Karenanya,

    akan ada tahapan-tahapan usia yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan untuk lebih dekat kepada siapa.


    Fitrah Seksualitas


    Menurut Elly Risman, seorang psikolog sekaligus pakar parenting,

    fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seorang anak berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya.

    Sebagai lelaki sejati, atau sebagai seorang perempuan sejati.

    Berbeda dengan pendidikan seks,

    pengenalan tentang fitrah seksualitas ini harus dimulai sejak bayi lahir.

    Pada prosesnya nanti, pendidikan fitrah seksualitas ini akan banyak bergantung pada kehadiran figur ayah dan figur ibu.

    Banyak riset dilakukan berkaitan dengan hal ini,

    bahwa anak-anak yang masa kecilnya kehilangan figur orangtuanya bisanya mengalami banyak masalah kejiwaan,

    seperti perasaan diasingkan, depresi, masalah sosial hingga seksualitas.

    Elly Risman dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa ada tahapan-tahapan usia yang berbeda dalam hal kedekatan anak dengan orangtuanya.

    Tahapan-tahapan usia tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:


    Usia 0-2 tahun: Tahap Menyusui


    Karena pada dua tahun pertama ini adalah masa-masa menyusui,

    maka pada tahap ini anak-anak, baik laki-laki atau perempuan akan lebih dekat kepada ibunya.


    Usia 2-7 tahun: Tahap Pengenalan


    Pada tahapan kedua ini, baik anak laki-laki ataupun anak perempuan harus dekat dengan ayah dan ibunya.

    Tujuannya adalah agar pada diri anak tercipta keseimbangan antara emosional dan rasional.

    Pada tahap ini anak-anak harus sudah bisa memastikan identitas seksualnya.

    Mereka sudah harus bisa mengatakan, “Saya laki-laki” atau “Saya perempuan”.

    Hal ini bisa terjadi dengan kedekatan anak dengan sosok ayah dan ibu secara bersamaan.

    Sehingga anak-anak sudah bisa membedakan mana laki-laki dan mana perempuan,

    serta menempatkan cara bicara, cara berpakaian, berpikir dan bertindak sesuai dengan identitas seksualnya.

    Lebih lanjut, Elly Risman mengatakan bahwa

    kegagalan anak-anak dalam memastikan jenis gendernya pada tahap ini,

    maka potensi penyimpangan seksual sebenarnya sudah mulai terjadi.


    Usia 7-10 tahun: Tahap Tanggung Jawab


    Pada masa-masa ini, anak-anak sudah mulai diperkenalkan perintah shalat

    dan mulai tumbuh rasa tanggung jawab.

    Maka pada tahapan ini sosok ayah harus lebih kuat kedekatannya dengan anak laki-laki.

    Dan sosok ibu harus lebih dekat dengan anak perempuan.

    Selalu mengajak anak-anak untuk shalat berjama’ah di masjid,

    berkomunikasi secara apa adanya dan bermain akrab dengan mereka,

    adalah hal-hal yang bisa dilakukan sang ayah untuk pembelajaran dalam bersikap dan bersosial.

    Pada tahapan ini biarkan anak laki-laki kita memahami figur ke-lelakian dan peran ke-ayahan yang nantinya akan mereka duplikasi dalam kehidupan sosial mereka.

    Maka seorang ayah harus menjadi ayah yang super hebat,

    sehingga sang ayah akan diingat anak sebagai laki-laki pertama yang menjadi idolanya.

    Pada fase ini ayah berkesempatan untuk menjelaskan hal-hal penting pada diri seorang laki-laki.

    Misalnya tentang mimpi basah, mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang laki-laki.

    Sedangkan kedekatan anak perempuan dengan ibunya akan membentuk jiwa ke-perempuanannya dan ke-ibuannya.

    Seorang ibu harus menjelaskan tentang haid, konsekuensi adanya rahim dan indung telur yang siap dibuahi bagi perempuan.

    Seorang ibu juga wajib menjadi sosok ibu yang sakti,

    Sehingga sang ibu akan dilihat anak sebagai perempuan pertama yang menjadi panutannya.


    Usia 10-14 tahun: Tahap Kritikal


    Pada tahap ini anak-anak mulai mencapai puncak fitrah seksualitas.

    Dengan kata lain, ini adalah masa transisi mereka menuju dewasa.

    Ketertarikan – baik secara birahi maupun empati - terhadap lawan jenis akan muncul pada tahapan ini.

    Maka Islam memerintahkan untuk memisahkan kamar anak laki-laki dan anak perempuan.

    Sedangkan pada pendidikan fitrah seksualitas,

    anak laki-laki harus didekatkan kepada ibunya, dan anak perempuan harus didekatkan kepada ayahnya.

    Kenapa?

    Ketertarikan terhadap lawan jenis secara birahi, harus diimbangi dengan ketertarikan secara empati.

    Seorang laki-laki harus bisa memperhatikan, memahami dan memperlakukan sosok perempuan,
    dari sudut pandang perempuan.

    Bukan dari sudut pandang dirinya.

    Maka gurunya haruslah seorang perempuan yang ideal, yang terhebat dan yang terdekat.

    Yaitu ibunya.

    Dari ibunya, anak laki-laki akan belajar memahami perasaan dan sikap perempuan.

    Jika anak laki-laki tidak dekat dengan ibunya pada tahap ini,

    maka ia akan menjadi lelaki yang kurang kedewasaannya, suami yang kasar dan egois,

    dan sebagainya.

    Sedangkan anak perempuan pada fase ini didekatkan dengan sang ayah.

    Agar ia memahami bagaimana seorang laki-laki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan,

    dengan kacamata laki-laki.

    Jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya di tahapan ini,

    maka ia berpotensi menyerahkan dirinya kepada sosok lain yang dianggapnya bisa menggantikan figur ayah yang hilang.

    Pendidikan fitrah seksual yang berhasil

    akan membentuk anak laki-laki kita menjadi seorang laki-laki sejati

    dan anak perempuan kita menjadi seorang perempuan sejati.